Jumat, 29 Februari 2008

Keindahan Laut Indonesia


”Snorkelling” di Kepulauan Banggai
Mengintip Keindahan Laut Wallacea


dok. Ekspedisi wallacea 2004
Kaya – Terumbu karang banggai kaya dengan ikan karang, di antaranya kardinal banggai dan ikan badut.

BANGGAI – Skin diving atau biasa disebut snorkelling, seringkali dianggap menduduki peringkat kedua setelah scuba diving. Tetapi, sebenarnya anggapan itu tak sepenuhnya benar. Selain tak kalah mengasyikkan, untuk ber-snorkelling seseorang tak perlu pusing memikirkan ada tidaknya dive center atau buddy yang akan menemani kita menikmati indahnya pemandangan bawah laut. Cukup menenteng fin, masker dan snorkel, Anda bisa langsung menceburkan diri dan menikmati warna-warni koral dan ikan karang sambil mengapung dengan tenang di permukaan laut…

Kesempatan untuk snorkelling sepuasnya datang ketika saya beruntung berkesempatan mengikuti leg 3 Ekspedisi Wallacea 2004 di Kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, 6 – 20 Juli 2004.
Kepulauan itu termasuk dalam area hotspot Wallacea, salah satu wilayah laut terkaya yang diketahui memiliki lebih dari 450 spesies koral dan 3.000 spesies ikan, beberapa di antaranya tak ditemukan di tempat lain di muka bumi. Kepulauan Banggai sendiri memiliki Banggai Cardinal Fish (Pterapogon kauderni) - endemik yang kini banyak diburu untuk pengisi aquarium. Enam dari tujuh jenis penyu di dunia juga ditemukan di wilayah tersebut.
Karenanya, meskipun dalam kapal riset Cinta Laut hanya tersedia 4 set peralatan scuba - yang tentu saja lebih banyak dipakai untuk kegiatan penelitian – saya tetap bertekad tak akan melewatkan kesempatan untuk mengintip keindahan laut Banggai. Apalagi, di tempat itu banyak site yang memang cocok untuk ber-snorkelling ria: tak terlalu dalam, perairan jernih, serta kaya dengan pemandangan indah.

Bungin, Pantai Berarus Kuat
Kesempatan pertama snorkelling saya peroleh di pantai Desa Bungin, desa pusat Kecamatan Bokan Kepulauan yang menjadi base camp tim peneliti Ekspedisi Wallacea 2004. Desa itu terletak di Pulau Salue Besar, salah satu pulau terbesar di Kecamatan Bokan Kepulauan yang seluruhnya terdiri dari 84 pulau.
Pantai yang terletak tepat di muka desa itu agak kotor, karena sampah penduduk. Tetapi di pinggir desa, pantai Bungin cukup indah dipandang, apalagi di mata saya yang sebelumnya hanya menyaksikan pantai Jakarta. Pasirnya putih, agak kasar karena bercampur serpihan karang. Lautnya cukup biru, meski serasah lamun terapung di sana-sini.
Sekitar pukul 10.00 – saat air pasang – saya menenteng fin, masker dan snorkel saya keluar dari rumah M. Pala – induk semang saya selama mengikuti ekspedisi. Karena hari itu tak ada kegiatan, saya memang berniat melewatkan waktu dengan berenang. Tiba-tiba, dari belakang terdengar sapaan, ”Mau mandi laut?” Ternyata Sella, salah seorang warga setempat. Saya beruntung bertemu dengannya, karena ia kemudian berbaik hati menunjukkan tempat yang cocok untuk snorkelling, bahkan bersama abangnya kemudian mengantarkan saya ke lokasi itu dengan katinting – istilah penduduk setempat untuk perahu kecil.
Tempat dimaksud adalah sebuah terumbu – yang oleh penduduk disebut rep, mungkin ada kaitannya dengan istilah reef dalam bahasa Inggris – tepat di depan pasar Bungin. Menurut Sella, tempat itu dilindungi oleh penduduk setempat, tak boleh dibom atau diracun karena dianggap sebagai sumber ikan. ”Ikan di sini dari rep itu semua. Kalau dibom, matilah semua sudah, tak ada ikan lagi. Makanya tak kita kasih kalau ada orang yang mau bom ikan di situ,” ujarnya dalam logat Banggai yang kental.
Hanya sekitar 15 menit ber-katinting, tibalah kami di terumbu yang dimaksud. Saya turun sendirian, sementara Sella dan abangnya menunggu di perahu sambil memancing. Dasar laut di bagian itu menyerupai lereng, dengan bagian terdangkal berkisar 5-6 meter. Terumbu karang di tempat itu kebanyakan berwarna kecoklatan, dengan bentuk beraneka ragam. Ada yang berbentuk seperti kelopak bunga (foliose), ada pula yang berkerut-kerut seperti bentuk otak. Tak terlalu berwarna-warni. Tetapi saya tak kecewa, karena tak lama kemudian - seolah dikirim sebagai hadiah dari dewa laut - terlihat seekor ikan besar berwarna kebiruan dan berjidat jenong, Napoleon (Cheilinus undulatus).
Sayang, saya tak sempat lama menikmati keindahan tempat itu, karena arus amat kuat. Celakanya, arus itu terus membawa saya menjauhi sampan. Karenanya, saya harus terus berenang melawan arus, agar bisa tetap berada di sekitar sampan. Ombak juga cukup mengganggu, karena berulang kali saya harus membersihkan snorkel yang tersiram ombak. Akhirnya, setelah kaki mulai terasa lelah, saya memutuskan naik ke dalam sampan. Baju saya kering dengan sendirinya, saat saya duduk dalam sampan sembari menunggui Sella memancing.

Kokudang, Pasir Putih
Kesempatan kedua datang ketika saya mengikuti tim peneliti terumbu karang ke Pulau Kokudang, salah satu pulau di Kecamatan Bokan Kepulauan. Di pulau itu hanya ada satu desa, sementara lokasi penelitian terumbu karang terletak di sisi lain pulau, pada bagian yang tak berpenghuni.
Kami bertiga – saya dan dua peneliti terumbu, Terry Kepel dan Azis – diturunkan lebih dulu dari speed boat. Terry dan Azis berencana mengukur pola pertumbuhan terumbu, sementara saya memang berniat snorkelling. Speed boat kemudian pergi meninggalkan kami karena harus mengantarkan anggota tim ke tempat lain.
Selama beberapa menit, kami bertiga masih bergabung. Tetapi segera Terry dan Azis turun ke kedalaman air, meninggalkan saya sendiri di pantai tak berpenghuni itu. Sunyi sekali, tak terdengar suara apa pun. Hati sempat terasa waswas, apalagi saat terlihat seekor ular laut berbelang hitam dan biru cerah menyusup ke bawah batu karang.
Tetapi, setelah berhasil melepaskan diri dari kuatnya arus (dengan cara berenang mendekati pantai, sehingga terlindung karang) dan mulai menikmati indahnya terumbu di pantai itu, rasa waswas kemudian memudar. Saya mulai asyik membidik berbagai obyek menarik dengan kamera underwater yang ada di tangan. Lumayan sulit juga. Setiap kali saya datang terlalu dekat, ikan-ikan cantik yang hendak saya abadikan itu segera menyembunyikan diri di bawah karang. Untunglah, air di tempat itu jernih bagai kristal. Dengan visibility sebagus itu, jarak beberapa meter tak menjadi soal.
Pantai Kokudang kaya dengan berbagai jenis ikan terlihat di tempat itu: manfish, botana, lettersix, ikan kupu-kupu, dan banyak lagi ikan lain yang tak saya ketahui namanya. Jenis koral yang ada pun jauh beraneka ragam dibandingkan yang terlihat di Bungin.
Lelah snorkelling, saya menuju pantai. Pantai itu tak lebar, tetapi landai dan pasirnya putih halus. Ada beberapa batang pohon yang batangnya condong, sehingga menyediakan tempat berteduh ideal. Selama beberapa saat saya tiduran di keteduhan pohon itu, sambil mendengarkan suara gagak yang berlalu lalang. Sayang, suasana damai itu kemudian dibuyarkan oleh kembalinya speed boat.

Lolarung Minanga, Padang Lamun
Tempat yang asyik buat snorkelling lainnya adalah celah-celah di antara hutan bakau di dekat Dusun Minanga, Pulau Melilis, yang oleh penduduk setempat disebut lolarung. Celah-celah yang kadang begitu sempit hingga menyerupai sungai itu, menurut penduduk setempat, seringkali dijadikan tempat persembunyian para pengebom ikan yang melarikan diri dari kejaran petugas. ”Kalau sudah melarikan diri sampai ke sini pasti tidak akan tertangkap,” ujar Rahman, warga Kokudang. Memang, hutan bakau di Melilis itu luas sekali. Beberapa pulau kecil bahkan terletak di daerah hutan bakau itu, sehingga tak terlihat dari luar. Tanpa dipandu penduduk lokal, rasanya mustahil kami bisa berkeliling di daerah itu tanpa tersesat.
Tetapi, lolarung itu sangat indah, dan sangat tepat untuk snorkelling. Terlindungi pulau-pulau dan hutan bakau, laut di tempat itu sangat tenang, bagaikan cermin besar berwarna biru kehijauan. Dasar lautnya kaya dengan padang lamun, di mana terdapat berbagai ikan. Karena relatif tak terganggu aktivitas manusia, air di tempat itu juga sangat jernih. Bayangkan, dari atas perahu, kita bisa melihat dengan jelas lamun yang tumbuh di dasar laut!
Di tempat itu pula, kami menemukan banyak ikan endemik Banggai – ikan kardinal Banggai. Ikan itu berlindung di balik helai-helai lamun. Selain ikan kardinal, di tempat itu juga terlihat banyak ikan hias lain, seperti ikan badut dan letter six. (SH/ruth hesti utami)






Copyright © Sinar Har

8 komentar:

phathreeca mengatakan...

wadyh postingannya masih berantakan pak ketu!!!!!!!!!!!!!!!

tapi keren koq

miss-phathreeca.blogspot.com

la tahzan mengatakan...

weh...pak ketu suka kehidupan bawah laut t????


From:siovals

etique mengatakan...

ass....
kpn2 klo kembali ke habitat asal,, jgn lupa ajak Q yo!!!!!!!!!!!!!


By:etique

binatang langka mengatakan...

laut di indonesia sangat indah

dari wayan

conan,,? mengatakan...

hoeee..hek..hek

cueneng men lo karo al;am baeah laut ???
arep dadi penyelam iyee???
tapi lain dari yang lain
apik

..deci..

BoelBoel mengatakan...

emang laut di indonesia sangat indah tapi awas tsunami

dari zhandy

cweety mengatakan...

ass...
amm...indah sekali lautnya...

sippp pak ketu...

....cemet...

DIAR mengatakan...

blog'nya bagus...

blog'nya keren...

blog'nya oke...

pokoke semangat...

tolong jangan lupa kasih koment aq jg yah...please..please..di sini yah :

kurakurakuimutsekali.blogspot.com